![]() |
| Pengurus RAPI Sidoarjo bersama Kapolresta Sidoarjo setelah upacara HUT ke 81 Republik Indonesia di Alun-alun. |
RAPI SIDOARJO — Setiap tanggal 17 Agustus, bangsa Indonesia kembali mengingat sebuah peristiwa besar yang mengubah perjalanan sejarah bangsa. Pada_ 17 Agustus 1945, Proklamasi Kemerdekaan dikumandangkan oleh Soekarno dan Mohammad Hatta. Dari sebuah momentum bersejarah itulah Indonesia berdiri sebagai bangsa yang merdeka.
Kini, 81 tahun kemudian, semangat kemerdekaan itu terus diwariskan dan diisi dengan berbagai bentuk pengabdian. Bukan lagi dengan mengangkat senjata seperti para pejuang masa lalu, tetapi melalui karya, pelayanan kepada masyarakat, gotong royong, dan kontribusi sesuai bidang masing-masing.
Salah satu bentuk pengabdian tersebut dapat dilihat dari kiprah Radio Antar Penduduk Indonesia (RAPI).
RAPI memang lahir jauh setelah Proklamasi, yakni pada 1980. Organisasi ini dibentuk sebagai wadah komunikasi radio antarpenduduk dan kemudian berkembang menjadi organisasi sosial yang memiliki peran dalam komunikasi masyarakat.
Namun, ada satu benang merah yang menarik antara perjuangan kemerdekaan 1945 dan keberadaan RAPI hingga hari ini: komunikasi untuk membangun persatuan.
Dari komunikasi perjuangan menuju komunikasi masyarakat
Pada masa perjuangan kemerdekaan, komunikasi menjadi bagian penting dalam menyebarkan informasi dan membangun kekuatan. Para pejuang harus mampu menyampaikan pesan dari satu tempat ke tempat lainnya dalam situasi yang penuh keterbatasan.
Hari ini, teknologi komunikasi telah berkembang jauh. Telepon pintar, internet, media sosial, dan berbagai platform digital membuat manusia dapat berkomunikasi dalam hitungan detik.
Namun, di tengah kemajuan teknologi tersebut, komunikasi radio tetap memiliki ruang dan fungsi tersendiri.
RAPI menjadi salah satu komunitas yang mempertahankan semangat komunikasi langsung melalui radio. Di tangan para anggotanya, radio bukan sekadar alat untuk berbicara, tetapi juga menjadi sarana membangun persaudaraan, berbagi informasi, membantu masyarakat, dan mendukung komunikasi dalam berbagai kegiatan.
Dalam situasi kebencanaan atau ketika komunikasi tertentu mengalami gangguan, jaringan< radio juga dapat menjadi salah satu sarana komunikasi yang berguna. Sejumlah pemerintah daerah bahkan masih melihat RAPI sebagai bagian dari kekuatan komunikasi kebencanaan.
RAPI dan semangat mengisi kemerdekaan
Kemerdekaan bukanlah akhir dari perjuangan. Setelah merdeka, tugas generasi berikutnya adalah mempertahankan persatuan dan mengisi kemerdekaan dengan sesuatu yang bermanfaat.
Di sinilah semangat RAPI menemukan relevansinya.
Semboyan “Rukun di Udara, Akrab di Darat, Iman di Hati” bukan hanya menjadi identitas komunikasi, tetapi juga menggambarkan nilai persaudaraan yang dibangun di antara anggota.
Di udara, anggota RAPI dapat berkomunikasi tanpa harus melihat perbedaan latar belakang. Ketika turun ke tengah masyarakat, komunikasi tersebut dapat diwujudkan menjadi kegiatan sosial, bantuan kemanusiaan, dukungan kebencanaan, maupun kegiatan masyarakat lainnya.
Semangat tersebut sejalan dengan nilai gotong royong yang menjadi bagian penting dari kehidupan bangsa Indonesia.
RAPI Sidoarjo di era modern
Di Kabupaten Sidoarjo, keberadaan RAPI juga terus berkembang mengikuti zaman.
Di bawah kepemimpinan Ferry Hardijanto, JZ13JOO, RAPI Sidoarjo periode 2024–2028 membawa semangat untuk meningkatkan peran organisasi di tengah masyarakat, termasuk memperkuat kolaborasi dengan berbagai pihak serta meningkatkan kemampuan anggota melalui kegiatan dan pelatihan.
Bagi RAPI Sidoarjo, kemajuan teknologi bukanlah ancaman terhadap keberadaan radio. Sebaliknya, teknologi dapat menjadi sarana untuk memperluas manfaat komunikasi radio.
Radio, internet, media sosial, hingga teknologi digital dapat berjalan berdampingan. Yang paling penting bukan semata-mata alat komunikasinya, melainkan nilai dan manfaat komunikasi tersebut bagi masyarakat.
Ferry Hardijanto: Kemerdekaan Harus Diisi dengan Pengabdian
Ketua RAPI Wilayah 13.24 Sidoarjo, Ferry Hardijanto (JZ13JOO), memandang peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI sebagai momentum untuk kembali mengingat bahwa kemerdekaan harus diisi dengan kontribusi nyata.
Menurut Ferry, anggota RAPI tidak harus menjadi pahlawan dalam pengertian seperti perjuangan masa lalu. Pengabdian dapat dilakukan melalui hal-hal sederhana yang memberikan manfaat bagi lingkungan dan masyarakat.
“Semangat kemerdekaan harus kita lanjutkan dalam bentuk pengabdian. Kalau dahulu para pejuang berjuang mempertahankan kemerdekaan, maka sekarang tugas kita adalah mengisi kemerdekaan dengan hal-hal yang bermanfaat bagi masyarakat.”
Ia menilai komunikasi radio tetap mempunyai tempat di tengah perkembangan teknologi digital.
“Teknologi terus berkembang, tetapi semangat untuk berkomunikasi, membangun persaudaraan dan membantu sesama tidak boleh hilang. RAPI harus mampu mengikuti perkembangan zaman tanpa meninggalkan jati dirinya sebagai organisasi komunikasi masyarakat.”
Menurutnya, anggota RAPI juga harus terus meningkatkan kemampuan, menjaga etika komunikasi di udara, serta membangun hubungan yang baik dengan masyarakat dan berbagai instansi.
“RAPI Sidoarjo harus terus hadir ketika masyarakat membutuhkan. Bukan hanya aktif di udara, tetapi juga hadir dalam kegiatan sosial, kemanusiaan, kebencanaan dan kegiatan masyarakat lainnya.”
17 Agustus 2026: Merdeka untuk terus terhubung
Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia tahun 2026 mengusung tema “Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur.” Pemerintah meluncurkan tema dan identitas visual resmi tersebut pada 29 Juni 2026.
Tema tersebut menjadi pengingat bahwa membangun Indonesia bukan pekerjaan satu kelompok atau satu generasi.
Semua mempunyai ruang untuk berkontribusi.
Bagi anggota RAPI, salah satunya adalah melalui komunikasi yang sehat, tertib, positif, dan bermanfaat.
Jika pada 1945 para pejuang menyatukan langkah untuk merebut kemerdekaan, maka pada 2026 masyarakat Indonesia memiliki tugas untuk menjaga persatuan dan mengisi kemerdekaan dengan karya serta pengabdian.
Dari pekik “Merdeka!” yang menggema pada 17 Agustus 1945, hingga “salam di udara” yang terdengar melalui frekuensi radio di era modern, semangatnya tetap sama: menghubungkan manusia, mempererat persaudaraan, menjaga persatuan, dan memberikan manfaat bagi sesama.
Bagi keluarga besar RAPI, komunikasi bukan sekadar berbicara melalui radio. Di dalamnya terdapat persaudaraan, kepedulian, gotong royong, dan semangat untuk selalu hadir ketika masyarakat membutuhkan.
Selamat HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur.
Salam di Udara, Salam 51-55.
RAPI — Rukun di Udara, Akrab di Darat, Iman di Hati.
Penulis : JZ13EOA
